PERKEMBANGAN PROSOSIAL REMAJA
A. Pendahuluan
Tingkah laku prososial adalah tingkah laku sosial positif yang menguntungkan atau membuat kondisi fisik atau psikis orang lain lebih baik, yang di lakukan atas dasar sukarela tanpa mengharapkan rewards eksternal.
Dalam makalah ini perkembangan prososial remaja kan dibahas secara terperinci yang meliputi :
1. Pengertian perkembangan prososial
2. Sumber tingkah laku prososial
3. Perkembangan tingkah laku prososial
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku prososial
5. Implikasinya dengan konseling.
B. Pembahasan
1. Pengertian Tingkah Laku Prososial
terdapat beberapa pendapat para ahli psikologi tentang prilaku prososial diantaranya :
a. Sears dkk (1992)
Mendefenisikan bahwa tingkah laku prososial merupakan tingkah laku yang menguntungkan orang lain. Menurut sears tingkah laku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperhatikan motif si penolong.
b. Sri Utari Pidada (1982)
Mendefenisikan bahwa pilaku prososial adalah suatu tingkah laku yang mempunyai suatu akibat atau konsekuensi positif bagi patner interaksi, selain itu tingkah laku yang bisa di klasifikasikan sebagai tingkah laku sosial sangat beragam di mulai dari bentuk yang paling sederhana hingga yang paling luar biasa.
c. Wispe (1981)
Tingkah laku prososial adalah tingkah laku yang mempunyai konsekuensi sosial positif yaitu menambah kondisi fisik dan psikis orang lain menjadi lebih baik
d. Brigham (1991)
Menyatakan bahwa wujud tingkah laku prososial meliputi : murah hati (charity), persahabatan (friendship), kerja sama (cooperation), menolong (helping), penyelamatan (rescuing) dll.
e. Bar-Tal (1976)
Tingkah laku prososial merupakan tingkah laku yang dilakukan secara sukarela, menguntungkan orang lain tanpa anti sipasi reward eksternal, dan tindakan prososial ini tidak dilakukan untuk dirinya sendiri.
f. Lead ( 1978 )
Menyatakan tiga kriteria yang menentukan tingkah laku prososial (altruistic) yaitu
1. tindakan yang bertujuan khusus menguntungkanorang lain tanpa mengharap reward eksternal
2. tindakan yang dilakukan dengan sukarela
3. tindakan yang menghasilkan hal yang positif [1]
g. Wrightsman dan Deaux (1981)
Mendefinisikan perilaku prososial sebagai perilaku seseorang yang mempunyai konsekuensi sosial positif yang ditujukan bagi kesejahteraan orang lain secara fisik maupun psikologis.[2]
Dari beberapa pendapat di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa tingkah laku prososial adalah tingkah laku sosial positif yang menguntungkan, yang ditujukan bagi kesejahteraan orang lain sehingga menjadikan kondisi fisik dan psikis orang lain menjadi lebih baik, selain itu tindakan prososial dilakukan atas dasar sukarela tanpa mengharapkan reward eksternal.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa perkembangan perilaku prososial telah dimulai sejak masa anak-anak. Dengan bertambahnya usia seorang anak, maka empatinya terhadap orang lain juga akan semakin berkembang. Dalam psikologi perkembangan juga dikatakan bahwa kemampuan seorang anak dalam berbagai hal akan meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.[3]
2. Sumber Prilaku Prososial
Sumber tingkah laku prososial terdiri dari 2 bagian yaitu ;
a. Endosentris
Sumber tingkah laku prososial berasal dari dalam diri seseorang. Sumber endosentris merupakan keinginan untuk mengubah diri dengan menampilkan self-image. Secara keseluruhan endosentris ini meningkatkan konsep diri (self-concept), salah satu bentuk konsep diri adalah self-expectation (harapan diri) yang berbentuk rasa bahagia, kebanggaan, rasa aman, evaluasi diri yang positif.
Harapan diri muncul karena seseorang hidup di lingkungan sosial, dimana dalam lingkungan sosial terdapat norma dan nilai. Norma sosial di peroleh remaja melalui proses sosialisi yang kemudian di internalisasikan sehingga menjadi bagian dari diri remaja itu sendiri. Norma yang di internalisasikan kedalam harapan diri (self-expectation) terdiri dari :
1). Norms of aiding (norma menolong), adalah norma sosial untuk menolong orang lain yang membutuhkan.
2). Norm of social responssibility, adalah suatu norma sosial yang dimana seorang individu menolong orang yang membutuhkan pertolongan walaupun orang yang ditolong tidak dapat membalas sama sekali.
3). Norm of giving, adalah norma sosial dimana seseorang menolong dengan sukarela.
4). Norm of justice, adalah suatu norma sosial dimana tingkah laku menolong didasarioleh norma keadilan yaitu keseimbangan antar memberi dan menerima
5). Norm of reciprocity, adalah suatu norma sosial dimana seorang individu menolong orang lain karena merasa akan mendapat imbalan
6). Norm of equity, adalah suatu norma sosial dimana seorang individu menolong orang lain karena pernah ditolong sebelumnya.
b. Eksosentris
Adalah sumber untuk memperhatikan lingkungan eksternal yaitu membuat kondisi lebih baik dan menolong orang lain dari kondisi buruk yang dialami. Orang yang melakukan tindakan menolong karena mengetahui atau merasakan kebutuhan, keinginan, dan penderitaan orang lain. Hal ini dijelaskan oleh Piliavin & Piliavin bahwa tindakan menolong terjadi karena :
1. adanya pengamatan terhadap kebutuhan atau penderitaan orang lain
2. adanya pengamatan terhadap penderitaan yang dirasakan oleh orang lain, sehingga menimbulkan motivasai untuk menguranginya
Menurut Derlega & Grzelak tingkah laku prososial bisa terjadi karena adanya penderitaan yang dialami oleh orang lain, pertolongan yang diberikan tidak mengharapkan reward eksternal. Selain itu prilaku prososial bisa terjadi karena adanya interpedensi situasi, misalnya seorang suami yang menolong istri di dapur.
Pada dasarnya tingkah laku prososial terjadi karena adanya saling ketergantungan antara sipenolong dengan orang yang ditolong.
3. Perkembangan Tingkah Laku Prososial
tingkah laku prososial selalu berkembang sesuai perkembangan manusia, ada 6 tahapan perkembangan tingkah laku prososial yaitu :
a. Compliance & Concret, Defined Reinforcement
pada tahap ini individu melakukan tingkah laku menolong karena perintah yang disertai oleh reward. Pada tahap ini remaja mempunyai perspektif egosentris yaitu mereka tidak menyadari bahwa orang lain mempunyai pikiran dan perasaan yang berbeda dengan mereka, selain itu tingkah laku prososial pada tahap ini terjadi karna adanya reward dan punishment yang konkrit.
b. Compliance
pada tahap ini individu melakukan tindakan menolong karena patuh pada perintah dari orang yang berkuasa. Tindakan menolong pada tahp ini dimotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dan menghindari hukuman.
c. Internal Initiative & Concret Reward
pada tahap ini individu menolong karena tergantung pada reward yang akan di terima, tindakan prososial dimotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan atau hadiah
d. Nominative Behavior
pada tahap ini individu melakukan tindakan prososial untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Individu mengetahui berbagai tingkah lakuyang sesuai dengan norma masyarakat. Dalam tahap ini individu mampu memahami kebutuhan orang lain dan merasa simpati dengan penderitaan yang dialami, tindakan prososial dilakukan karna adanya norma sosial yang meliputi : norma memberi dan norma tanggung jawab sosial.
e. Generalized Reciprocity
pada tahap ini seseorang melakukan tindakan menolong karna adanya kepercayaan apabila suatu saat ia membutuhkan bantuan maka ia akan mendapatkannya, harapan reward pada tahap ini non konkret yang susah dijelaskan.
f. Altruistic Behavior
pada tahap ini seseorang melakukan tindakan menolong secara sukarela yang bertujuan untuk menolong dan menguntungkan orang lain tanpa mengharapkan imbalan, tindakan prososial dilakukan karena plihan individu sendiri yang didasarkan pada prinsip moral.
Pada tahap ini individu sudah mulai dapat menilai kebutuhan orang lain dan tidak mengharapkan hubungan timbal balik untuk tindakannya.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Tingkah Laku Prososial
Tingkah laku prososial dipandang sebagai tingkah laku yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan, melalui hal ini manusia menjalankan fungsi kehidupan sebagai penolong dan yang ditolong.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan tingkah laku prososial antara lain :
a. Orang Tua
Hubungan antara remaja dengan orang tua menjadi faktor penentu utama dalam keberhasilan remaja berperilaku prososial ketika berinteraksi di lingkungan sosial yang lebih luas. Keluarga yang merupakan kelompok primer bagi remaja memiliki peran penting dalam pembentukan dan arahan perilaku remaja.
Hal-hal yang diperoleh dari lingkungan keluarga akan menentukan cara-cara remaja dalam melakukan interaksi dengan lingkungan sosial di luar keluarga. Menurut Ahmadi (1988) keluarga merupakan lingkungan sosial pertama dalam kehidupan remaja. Remaja belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerjasama, dan menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial.
Cara bertingkah laku, dan sikap orang tua dalam keluarga akan mempengaruhi suasana interaksi keluarga dan dapat mengakibatkan ciri-ciri tertentu pada perkembangan kepribadian remaja, orang tua adalah pemegang peranan penting dalam pembentukan akhlak dan budi pekerti putra putrinya. Hal tersebut karena waktu yang dimiliki remaja 75% dihasilkan di lingkungan keluarga. Mengingat orang tua merupakan faktor penting dalam pembentukan pribadi remaja maka cara yang digunakan dalam mengasuh dan membimbing remaja tergantung pada sikap, pribadi dan kemampuan yang dimiliki oleh orang tua remaja tersebut.[4]
b. Guru
selain orang tua, sekolah juga mempunyai pengaru yang sangat besar terhadap perkembangan tingkah laku prososial. Di sekolah guru dapt melatih dan mengarahkan tingkah laku prososial anak dengan menggunakan teknik yang efektif.
Misalnya guru dapat menggunakan teknik bermain peran, teknik ini melatih anak mempelajari situasi dimana tingkah laku menolong di peroleh dan bagaimana melaksanakan tindakan menolong tersebut.
Teknik bermain peran mengembangkan sensitivitas terhadap kebutuhan orang lain dan menambah kemampuan role taking dan empati. Di sekolah guru mempunyai kesempatan mengarahkan anak dengan menganalisis cerita dalam bahasan yang berbeda.
c. Teman sebaya
Teman sebaya mempunyai pengaruh terhadap perkembangan tingkah laku prososial khususnya pada masa remaja. Ketika usia remaja kelompok ssial menjadi sumber utama dalam perolehan informasi, teman sebaya dapat memudahkan perkembangan tingkah laku prososial melalui penguatan, pemodelan dan pengarahan.
d. Televisi
Selain sebagai hiburan, televisi merupakan sebagai agen sosial yang penting. Melalui penggunaan muatan prososial, televisi dapat mempengaruhi pemirsa. Dengan melihat program televisi anak juga dapat mempelajari tingkah laku yang tepat dalam situasi tertentu, televisi tidak hanya mengajarkan anak untuk mempertimbangkan berbagai alternatif tindakan tapi juga anak juga bisa mengerti dengan kebutuhan orang lain, membentuk tingkah laku prososial dan memudahkan perkembangan empati.
e. Moral Dan Agama
Perkembangan tingkah laku prososial juga berkaitan erat denganaturan agama dan moral. Menurut Sears dkk (1992) menyatakan bahwa aturan agama dan moral kebanyakan masyarakat menekankan kewajiban menolong.[5]
5. Implikasi Perkembangan Tingkah Laku Sosial dengan Konseling
Beberapa strategi yang dapat digunakan oleh guru pembimbing dalam upaya membantu peserta didik dalam memperoleh tingkah laku interpersonal yang efektif :
1. mengajarkan keterampilan sosial dan strategi pemecahan msalah sosial
2. menggunakan strategi pembelajaran ynag kooperatif
3. meningkatkan kesadaran siswa terhadap efektifitas keterampilan sosial dengan mencerminkan keterampilan sosial tersebut.
4. mengajak siswa untuk memikirkan dampak dari prilaku yang mereka miliki
Dalam hal implikasi perkembangan tingkah laku prososial terhadap konseling ini juga dapat dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling, selain itu konselor atau guru pembimbing juga dapat bekerjasama dengan pihak terkait.
C. Penutup
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa tingkah laku prososial adalah tingkah laku sosial positif yang menguntungkan, yang ditujukan bagi kesejahteraan orang lain sehingga menjadikan kondisi fisik dan psikis orang lain menjadi lebih baik, selain itu tindakan prososial dilakukan atas dasar sukarela tanpa mengharapkan reward eksternal.
SARAN
Pemakalah menyadari bahwasanya masih terdapat banyak kesalahan oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Desmita,Psikologi Perkembangan Peserta Didik,PT Remaja Rosdakarya. Bandung :2007
http://konselorsukses.blogspot.com/2009/11/konsep-dasar-perilaku-sosial.html
http://nuraliyahok.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar