KONSELING DI PANTI ASUHAN ANAK
A. Pendahuluan
Disorganosasi keluarga seperti perceraian kedua orang tua, krisis ekonomi keluarga dan meninggalnya salah satu atau kedua orang tua menyebabkan terputusnya interaksi sosial antara orang tua dan anak, akibatnya anak kurang mendapat perhatian dan terabaikannya pendidikan anak. Maka salah satu cara yang dilakukan agar anak tetap dalam pengasuhan adalah dengan menampung anak-anak tersebut ke dalam suatu wadah yaitu panti asuhan, guna membantu meningkatkan kesejahteraan anak dengan cara mendidik, merawat, membimbing, mengarahkan dan memberikan keterampilan-keterampilan seperti yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga.
Panti asuhan adalah suatu lembaga usaha kesosialan yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesosialan kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar. memberikan pelayanan pengganti orang tua / wali anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial pada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional.
B. Konseling di panti asuhan
1. Konsep Dasar Panti Asuhan dan Permasalahan Anak
Anak merupakan bagian yang terpenting dalam kelangsungan hidup manusia, karena anak merupakan generasi penerus dalam suatu keluarga. Sejak lahir anak telah diperkenalkan dengan pranata, aturan, norma dan nilai-nilai budaya yang berlaku melalui pengasuhan yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga. Dengan demikian agar anak dapat hidup dan bertingkah laku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat dibutuhkan suatu proses sosialisasi.
Sosialisasi pertama kali terjadi dalam lingkungan keluarga melalui pengasuhan yang diberikan oleh orang tua, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian anak melalui interaksi dalam keluarga. Keadaan tersebut akan berbeda bagi anak-anak yang tidak memiliki keluarga secara utuh.
Disorganosasi keluarga seperti perceraian kedua orang tua, krisis ekonomi keluarga dan meninggalnya salah satu atau kedua orang tua menyebabkan terputusnya interaksi sosial antara orang tua dan anak. Akibatnya, anak menjadi kurang mendapat perhatian dan pendidikan terabaikan. Maka salah satu cara yang dilakukan agar anak tetap dalam pengasuhan adalah dengan menampung anak-anak tersebut ke dalam suatu wadah yaitu panti asuhan, guna membantu meningkatkan kesejahteraan anak dengan cara mendidik, merawat, membimbing, mengarahkan dan memberikan keterampilan-keterampilan seperti yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga.
Panti asuhan merupakan suatu lembaga sosial yang bertanggung jawab memberi pelayanan pengganti dalam pemenuhan kebutuhan fisik, mental dan sosial pada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat, dan memadai bagi perkembangan kepribadian anak asuh[1].
Kematian orang tua merupakan salah satu kondisi utama yang memungkin ditempatkannya anak di panti asuhan, Pengalaman perpisahan dengan orang tua serta tingkat kematangan anak dalam memahami perpisahan dengan orang tua menjadi salah satu faktor penghambat anak dalam beradaptasi dengan penempatannya di panti asuhan.
Pemisahan anak dari lingkungan keluarganya dapat menimbulkan tekanan akibat perubahan situasi hidup yang bersumber dari :
a. Pengalaman kehilangan figur dekat (orang tua)
b. Situasi baru yang tidak dikenali
c. Tak dapat memperkirakan apa yang akan dihadapi selanjutnya
d. Perubahan kebiasaan[2].
Ada beberapa fakta gangguan perkembangan yang dikemukan oleh para ahli mengenai anak-anak yang mengalami emotional deprivation ini, khususnya ketika mereka kehilangan bond relationship dengan orang tua pada masa perkembangan awal hidup mereka yaitu :
a. Adanya resiko problem medis dan gangguan kesehatan, keadaan sedih pada anak menghambat sekresi hormon kelenjar di bawah otak (pituitary Hormones) sehingga menghambat hormone pertumbuhan. Anak-anak ini dua kali lebih beresiko untuk mengalami gangguan kesehatan yang serius.
b. Adanya resiko disfungsi perkembangan, anak-anak ini seringkali mengalami gangguan pada wilayah perkembangan motorik dan kognitifnya, khususnya kemampuan belajarnya. Kemampuan menaruh perhatiannya yang rendah, kesulitan belajar, dan bahkan (dalam beberapa kasus) terjadi penurunan tingkat IQ anak secara perlahan.
c. Adanya resiko gangguan kesehatan mental dan emosi. Data penelitian menunjukkan bahwa 1/3 – ½ anak yang mengalami trauma karena abused dan neglected mengalami beberapa gangguan kesehatan mental, mulai dari mood and anxiety disorder, eating disorder, personality disorder, bahkan cukup banyak mengarahkan diri kepada kasus bunuh diri sebagai alternatif terakhir untuk pemecahan masalah pribadi.
d. Adanya resiko gangguan perilaku ketika anak menginjak usia dewasa (Revictimization). Anak-anak yang tumbuh dalam situasi dimana mereka tidak mendapatkan bond relationship dari orang tua natural, anak mengalami banyak kesulitan dan gangguan perilaku, khususnya dalam usaha mereka menemukan sesuatu yang hilang, kosong, dan sudah begitu lama dirindukan.
2. Efek Psikologis Emotional Deprivated Children
Anak panti asuhan adalah anak-anak yang mengalami penelantaran (neglected) oleh orang tua mereka, baik secara fisik, kesehatan sosial dan secara khusus emosi. Anak ini tumbuh dengan efek besar yang sangat mempengaruhi kehidupan yang disebabkan oleh :
a. Perasaan bersalah (guilt)
Anak-anak ini adalah anak-anak yang menjadi korban dan tidak dapat disalahkan untuk kondisi yang mereka alami. Namun anak-anak ini seringkali menyalahkan diri mereka untuk kondisi yang mereka alami. Seringkali mereka mengembangkan false thought, yaitu merasa diri tidak berharga, tidak pantas dikasihi, dan tumbuh dalam perasaan bersalah, bahwa karena merekalah maka orang tua mereka tidak menginginkan mereka dan meninggalkan mereka di panti asuhan.
b. Kesulitan untuk mempercayai orang lain (mistrust)
Menurut Teori perkembangan psikososial Eric Ericsson, anak-anak mengembangkan trust kepada orang lain, khususnya lewat bond-relationship dengan ibu pada masa awal kehidupan (1-2 tahun). Tapi hal ini sangat berbanding terbalik dengan anak yang sejak kecil telah tinggal di panti asuhan, karena anak yang berada di panti asuhan harus berbagi perhatian dari pengasuh di panti asuhan, yang harus memperhatikan banyak anak sekaligus.
c. Perilaku agresi (aggression) atau menarik diri (withdrawal).
Anak-anak yang ditolak ini seringkali memunculkan sikap agresif, khususnya dalam mengisi sesuatu yang kosong dalam diri mereka.
d. Anak-anak ini cenderung mengalami kesulitan dalam hubungan sosial mereka. Kebutuhan untuk dipenuhi, dikasihi, diterima, membuat mereka cenderung menuntut, terlibat konflik, dan sedikit sekali kesempatan untuk memberi.
3. Langkah – Langkah Konseling
Sebagai seorang konselor yang profesional kita memiliki peranan penting dalam hal ini, langkah-langkah yang dapat kita lakukan antara lain :
a. Bangun hubungan yang mendalam dengan anak yang menjadi konseli kita, proses membangun hubungan memerlukan waktu yang cukup panjang dan memerlukan kesabaran dari konselor. Hal ini disebabkan karena anak-anak ini sedang terluka, hidup dalam fakta-fakta negatif yang dibangunnya selama ini,sehingga ia tidak mudah mempercayai orang lain, ketidakstabilan emosi, ada banyak kemarahan terhadap orang dewasa dan diri sendiri karena pengaruh agresi dalam diri, dan sebagainya. Oleh sebab itu, proses membangun hubungan (joining) seringkali dipandang sebagai faktor penentu keberhasilan sebuah konseling terhadap anak-anak terluka ini.
b. Ketika hubungan sudah terbangun dengan baik, anak sedikit demi sedikit mulai membuka diri, bahkan mulai masuk ke wilayah diri yang lebih dalam. Sikap yang dibutuhkan adalah sikap empathy dan understanding, yang memberi keyakinan bahwa konselor ada di sana untuk mendampingi, memahami, dan mengasihi konseli.
c. Konselor memberi affirmasi (penegasan) mengenai apa yang dia rasakan, perhatikan, dan pelajari dari semua info yang diterima sejak pertemuan pertama dan memberi penegasan bahwa apa yang konseli rasakan dan alami sangatlah berat dan ekspresi yang diungkapkan konseli adalah ekspresi yang mungkin akan dilakukan oleh orang lain yang mengalami hal yang sama.
d. Konselor menolong konseli untuk memisahkan ketakutan dan perasaan kehilangannya, yaitu antara kehilangan yang konkrit dengan yang abstrak, dan antara kehilangan yang dibayangkan saja atau kehilangan yang mengancam.
e. Konselor perlu memfasilitasi proses berduka yang benar dan sehat, karena hal ini akan menimbulkan efek terapeutik yang sangat kuat untuk memperoleh pemulihan.
f. Menolong Konseli untuk mengubah Unhelpful thought menjadi helpful thought, yaitu bahwa keadaannya pada masa lalu bukanlah kesalahannya, tapi sesuatu yang tidak mampu dihindarinya.
g. Dalam fase ini, konselor memberi direksi (Arahan) terhadap tindakan yang perlu dilakukan. Dalam fase ini, anak ditolong untuk menguasai skill yang baru mengenai caranya mengatasi ledakan emosi, kemarahan, problem solving dan sebagainya.
h. Konselor perlu melakukan follow up terhadap apa yang sudah dicapai saat itu. Anak-anak di panti asuhan perlu masuk ke dalam terapi kelompok, untuk menolong mereka menemukan kebenaran indah dari hidup mereka; mereka sama-sama pernah terluka dan dilukai[3].
C. Penutup
a. Kesimpulan
Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha kesosialan yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesosialan kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar. memberikan pelayanan pengganti orang tua / wali anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial pada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional.
Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa melakukan konseling terhadap anak yang berada di panti asuhan bukanlah hal yang mudah dan cepat, akan tetapi harus melalui proses dan memerlukan waktu yang lama, sehingga sangat dibutuhkan kesebaran dan keterampilan konselor.
b. Saran
Melalui penjelasan mengenai konseling di panti asuhan di atas, penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan pembaca dalam hal konseling di panti asuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi Nurul Fatmawati, Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan, (online) tersedia :http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH01dc/50cb97d8.dir/doc.pdf.
Karolina, Kondisi Psikososial Anak yang Dibesarkan di Panti Asuhan, (online) tersedia:http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/09/kajian_mengenai_kondisi_psikolsosial_anak.pdf. html
Rudy Tejalaksana, Konseling Bagi Anak-Anak Panti Asuhan, (online), tersedia : http://his-shelter-community.blogspot.com/2009/12/pelayanan-konseling-bagi-anak-anak.html
[1] Dwi Nurul Fatmawati, Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan, (online) tersedia : http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH01dc/50cb97d8.dir/doc.pdf. html 14 Februari 2011
[2] Karolina, Kondisi Psikososial Anak yang Dibesarkan di Panti Asuhan, (online) tersedia:http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/09/kajian_mengenai_kondisi_psikolsosial_anak.pdf. html 15 Februari 2011
[3] Rudy Tejalaksana, Konseling Bagi Anak-Anak Panti Asuhan, (online), tersedia : http://his-shelter-community.blogspot.com/2009/12/pelayanan-konseling-bagi-anak-anak.html 18 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar