MA’RIFAH
A. Pendahuluan
Ma’rifah adalah proses mengenal Allah swt untuk mencapai suatu maqam atau tingkatan. Proses ma’rifah merupakan proses untuk mengenal Allah secara lebih dalam akan tetapi tidak semua orang yang bisa mencapai tingkatan ma’rifah tersebut.
Pada pembahasan ini pemakalah mencoba mengkaji tentang ma’rifah lebih mendalam meliputi :
1. Pengertian ma’rifah
2. Faham ma’rifah
3. Proses ma’rifah
B. Pembahasan
1. Pengertian Ma’rifah
Ma’rifah berasal dari kata “al ma’rifah” yang artinya mengetahui atau mengenal sesuatu. Dalam istilah tasawuf ma’rifah adalah mengenal Allah oleh sufi untuk mencapai suatu maqam (tingkatan) dalam tasawuf. Proses ma’rifah hanya terdapat pada sufi saja, karena untuk mendapatkan ma’rifah ini tidaklah dari hasil belajar, usaha, atau pembuktian tetapi ma’rifah merupkan ilham yang dilimpahkan Allah kedalam hati yang paling rahasia dari hamba Nya (sufi) yang sanggup menerimanya.
Ma’rifat dalam tasawuf adalah penghayatan atau pengalaman kejiwaan, oleh karena itu alat untuk menghayatidzat Allah bukan pikiran atau panca indra melaian kan hati atau kalbu. Dalam ajaran tasawuf hati atau kalbu merupakan organ yang sangat penting karena dengan hatilah nita bisa menghayati segala rahasea yang ada dalm alam ghaib dan puncaknya adalah penghayatan ma’rifat[1]
Beberapa pendapat ulama tentang ma’rifah
a. Dr. Mustafa Zahri
Berpendapat bahwa ma’rifah adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaan Nya
b. Asy-syekh ihsan muhammad dahlan al kadiry
berpendapat bahwa ma’rifah adalah hadirnya kebenaran Allah (pada sufi) dalam keadaan hati selalu berhubungan dengan Nur Illahi
tidak semua orang yang menuntut ajaran tasawuf bisa sampai pada tingkatan[2] ma’rifah. Ada beberapa tanda-tanda yang dimiliki oleh sufi ketika sudah sampai pada tingkatan ma’rifah antara lain :
a. Selalu memancarkan cahaya ma’rifah dalam segala sikap dan prilakunya.
b. Tidak menjadikan keputusan terhadap sesuatu berdasarkan fakta yang bersifat nyata karena hal yang nyata menurut ajaran tasawuf belum tentu benar.
c. Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak terhadap dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.
Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui bahwa orang sufi tidak membutuhkan kehidupan yang mewah kecuali tingkatan kehidupan sekedar dapat menunjang kegiatan ibadah kepada Alllah.
Ketika mencapai tingkatan ma’rifah posisi antara hamba dan tuhannya sangat dekat. Beberapa ulama menggambarkannya sebagai berikut :
a. Imam Rawim mengatakan, sufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifah bagaikan ia berada di depan cermin maksudnya, ketika seorang sufi sudah larut (khulul) dengan tuhannya. Maka tiada lain yang dilihatnya adalah tuhan Nya.
b. Al-Junaid Al-bagdadiy mengatakan, sufi yang telah mencapai tingkatan ma’rifah bagikan sifat air dalam gelas yang selalu menyerupai warna gelasnya.
c. Sahal Bin Abdillah mengatakan, bahwa puncak ma’rifah itu adalah keadaan yang diliputi rasa kekaguman ketika berhadapan dengan tuhannya.
2. Faham Ma’rifah
Para sufi mempunyai ulasan bagimana hakikat ma’rifah. Mereka mengemukakan paham-pahamnya antara lain :
a. jika mata hati terbuka maka mata kepala tertutup dan pada saat itulah yang dilihat hanya Allah.
b. Ma’rifah adalah cermin, jika seseorang yang arif melihat kecermin maka yang dilihatnya hanyalah Allah.
c. Seandainya ma’rifah itu materi, maka semua orang yang melihat akan terpesona karna keindahannya
Zunnun Al-Missrilah membagi pengetahuan tentang tuhan menjadi tiga macam :
a. Pengetahuan awam, bahwa tuhan satu dengan perantar ucapan syahadat.
b. Pengetahuan utama, bahwa tuhan satu menurut akal
c. Pengetahuan sufi, bahwa tuhan satu dengan perantara hati sanubari
3. Proses Ma’rifah
Untuk mendapatkan suatu ma’rifah seorang sufi melalui proses yaitu menurut Al-Qusyairi
a. Qalb (hati) fungsinya untuk bisa mengetahui sifat-sifat tuhan
b. Ruh berfungsi untuk bisa mencintai tuhan
c. Sir berfungsi untuk melihat tuhan
Jika seorang sufi telah melalui proses di atas maka seorang sufi tersebut sudah berada pada tingkatan ma’rifah.
- Penutup
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa ma’rifah merupakan tingkatan paling tinggi yang proses untuk mencapainya seseorang harus melalui tingkatan-tingkatan yang disebut maqam. Selain itu tidak semua orang bisa mencapai tingkat ma’rifah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar